Minggu, 26 Oktober 2014

Wajah Baru Pertanian Keluarga Australia

Kebun Kita - 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Dunia. Tahun ini temanya adalah "Pertanian Keluarga: Memberi Makan Dunia, Merawat Bumi". Australia Plus bertemu dengan beberapa keluarga di Australia, untuk bertanya pendapat mereka tentang pertanian keluarga.

Agustinus Wibowo, asal Medan, tinggal di Adelaide, Australia Selatan bersama istrinya, Henny Chandra dan dua anak mereka, Jeffry dan Kelly. Pada awalnya Agustinus hanya menanam di belakang rumahnya sebagai hobi. Tetapi kini telah menjadi lebih dari sekedar kegemaran, karena kebunnya menghasilkan kebutuhan pangan setiap minggunya.

"Saat kita pindah empat tahun lalu, kebun dibelakang tersebut gundul," ujar Agustinus. "Kemudian saya mencoba menanam beberapa jenis buah-buahan. Ada aprikot, pir, jeruk mandarin, plum, mangga, jeruk limau, cherry, jambu, jeruk purut, pisang, anggur. Kita juga menanam cabai, bit, dan kacang polong."

  Agustinus adalah lulusan sarjana pertanian dan sekarang bekerja sebagai tukang kebun panggilan di Adelaide, jadi menanam bukan sekedar pekerjaan, tetapi sebuah kecintaan.

  "Saya menyukai apapaun yang berhubungan dengan alam," ujarnya. "Ada kesenangan saat kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita makan dan nikmati."

  Keluarganya pun kita telah menjadikan berkebun sebagai kegemaran.

  "Kita punya empat ayam, itu ide putri saya, Kelly. Ia tidak mau memelihara kucing atau anjing, tapi ayam. Jadi ada sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak, mengambil telur."

  "Awalnya tidak terpikir soal pertanian keberlanjutan, tapi sekarang dengan semua pohon-pohon yang ada, melindungi keluarga kami dari matahari pagi, rasanya lebih nyaman. Baru-baru ini kami juga memasang tangki air, sehingga kita bisa menampung air hujan untuk menyirami tanaman. Ini adalah cara untuk menjaga lingkungan, di saat yang bersamaan menghemat pengeluaran," ujarnya.

Steven Zezos dan keluarganya memiliki perternakan di kawasan Tallarook, Victoria. Mereka memelihara ayam, sapi, dan babi, yang juga dipasok ke toko-toko daging dan restoran.
  
"Tak ada yang lebih memuaskan selain memilki kehidupan yang selaras dengan alam," ujar Steve. "Langsung berhubungan dengan sumber pangan dan belajar memakan sesuatu sesuai dengan musimnya adalah hal yang sangat berharga dalam hidup ini. Saya melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai seorang ayah untuk mengajarkan anak-anak soal bagaimana makanan mereka dibuat.”
  Steven dibesarkan dengan keluarga peternak dan saat ia kembali menjadi peternak dua tahun lalu, ia mengaku seperti kembali ke asalnya.

  Peternakannya, "Life on the Land", didasarkan pada prinsip-prinsip regenerasi. "Kita perlu berternak dan bertanam yang meninggalkan lingkungan menjadi lebih baik setelah dipakai dan dipanen; lebih subur," katanya.

"Peternakan pun telah menghubungkan keluarga saya dengan cara yang spesial, setiap makanan yang kita konsumsi memperbarui tanah yang kita gunakan."

  "Dan menjadi kepuasan tersendiri saat konsumen mengatakan daging ayam, sapi, dan babinya adalah yang paling terenak, yang pernah mereka makan. Untuk memproduksi pangan, tanpa bahan kimia, bagi kesehatan warga adalah hal yang menyenangkan bagi kami, sebagai petani."

Loraine Gilmore adalah peternak generasi ketiga di Benambra, sekitar 430 kilometer dari Melbourne. Peternak wanita ini memiliki lebih dari 200 sapi dan lebih dari 120 domba di peternakannya yang seluas lebih dari 161 hektar.
  
  "Menjadi peternak bisa sulit, tetapi saya mencintai pekerjaan ini," ujar Loraine. "Mungkin kini kita tidak sekaya generasi sebelumnya, tapi kita kaya dengan pengalaman."
  Kawasan Benambra memang dikenal dengan hewan ternak berkualitas tinggi, selain juga lelang tahunan ternaknya yang selalu menarik pembeli dari seluruh penjuru Australia.

  Tapi, seperti beberapa kawasan pedalaman Australia, kawasan Benambra juga pernah mengalami kekeringan selama beberapa dekade dan kebakaran semak-semak yang hampir menghancurkan kawasan tersebut dan menyebabkan gunung-gunung menjadi hangus di tahun 2003.

  "Cuaca yang ekstrim semakin sering terjadi," ujar Loraine. "Anak-anak muda sudah meninggalkan kawasan ini, menyedihkan."

  Kini populasinya hanya tinggal 239 orang. Sebuah sekolah dasar bahkan terpaksa ditutup di tahun 2002, karena jumlah muridnya yang terus merosot.

  Kini harapan terbesar Loraine adalah ada satu diantara empat anak-anaknya yang akan meneruskan peternakan keluarga, yang sudah dijalankan turun temurun.

  "Kini mereka telah menikah dan tinggal di kota, tapi saya berharap suatu hari nanti mereka akan kembali," ujarnya.

  John (ZHI Gang) Zhuang dam keluarganya memiliki kebun jeruk limun, atau lemon, di kawasan Lembah Yarra, Melbourne timur.

  Kebunnya ini tercatat menjadi kebun jeruk limun terbesar di Australia. Luasnya mencapai lebih dari 55 hektar dengan 17 ribu pohon jeruk limun. Mereka memasok limun ke jaringan supermarket di Australia. Diantara komunitas Cina, John dikenal dengan sebutan, "Raja Lemon".

"Banyak yang bertanya, kenapa lemon?" ujarnya. "Jawabannya karena lemon bisa menghindari kanker jika dikonsumsi satu setiap hari. Sama halnya seperti ginseng di Cina, jeruk limun pun punya khasiat sakti."

  Sebelum tiba di Australia di tahun 1990, John adalah seorang petani di Provinsi Fujian, Cina.

"Bagi saya, ini adalah hal alami untuk berkebun, Ini bisa saya lakukan lebih baik daripada orang lain," jelas John.

Sebelum pindah ke negara bagian Victoria, John pernah bekerja di kebun buah-buahan di Australia Selatan selama 10 tahun.

"Dimana saja, berkebun selalu membutuhkan usaha, tapi hati saya ada di kebun jeruk limun. Sekarang seluruh keluarga saya semua terlibat."

  Di tahun 2009, kebakaran menghantam kebun buah-buahan milik keluarganya, dan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah.

  "Sangat menyedihkan," ujar John. "Kita harus menanam lagi selama beebrapa tahun, hampir-hampir memulai bisnis lagi dari bawah." Tapi ia mengaku kini keadaannya sudah seperti semula, bahkan sedang berusaha untuk mengembangkan bisnisnya.

  "Saya percaya dengan masa depan industri pertanian Australia yang cerah. Ada permintaan tinggu dari Cina untuk produk-produk segar Australia, sekarang ini."


  John juga aktif dalam asosiasi petani di Victoria dan ia mencoba membantu para petani lokal untuk mendapat akses memasarkan produknya ke pasar Cina.(ABC Radio Australia)

0 komentar:

Posting Komentar